Pages

Selasa, 31 Januari 2017

Andy Claver Part 2: Claudio



Pernahkah kalian menonton film Chucky? atau, Puppet Master? dan baru-baru ini ada film Anabelle, film-film tentang boneka yang bisa hidup dan meneror orang lain. Pasti kalian menganggap gila orang-orang yang mengatakan kalau boneka bisa hidup. Tapi, itu yang terjadi padaku kemarin siang. Boneka itu benar-benar mengerikan, tatapan matanya sangat tajam dan dingin ketika melihat kearahku. Bahkan dia berjalan kearah pintu, untung saja aku dapat menggerakan kaki dan segera menjauh dari kamarku sendiri.
"Andy, apa kau tau karma karna melamun ketika sedang makan?" Ayah membuyarkan lamunanku. Dia memang benci ketika ada diantara kami yang berbicara, bercanda, bahlan melamun ketika sedang makan. Baginya, makan malam bersama keluarga adalah semacam ritual suci,
"Itu sama saja dengan kau tidak mensyukuri apa yang diberi oleh Tuhan." sambung Ayah menatap tajam kearahku. Ayahku itu memang sangat dingin, bahkan lebih dingin daripada si maniak Frank. Bahkan dapat kulihat kalau Frank tersenyum kecil di kursi dekat Ayah. Dia selalu senang ketika Ayah memarahiku, atau ketika aku mendapat masalah. Frank bajingan, aku ingin sekali membakar seluruh isi kamarnya, lalu melihatnya menangis. Karna Ayah masih terus melihatku, aku dengan cepat berusaha menghabiskan makananku. Aku tidak berani menjawab perkataannya, tidak ada yang berani padanya di rumah ini.
"Bagus. Makan malam ini kita lakukan dengan hikmat, sekarang kembali ke kamar kalian. Aturan Ayah masih tetap, tidak ada yang keluar rumah sesudah jam 7 malam." Hikmat? memangnya kami sedang beribadah? yah, tidak perlu heran... Ayah memang selalu berbicara dengan sangat formal. Setelah mengelap mulutnya dengan serbet, Ayah bangkit dari kursinya, lalu berjalan keluar rumah lengkap dengan jasnya yang rapi. Yap, dia kembali bekerja. Dia selalu bekerja sepanjang waktu. Tanpa sepatah katapun atau sempat melihat wajah anak-anaknya sambil tersenyum, dia pergi keluar rumah dengan menenteng tas kerjanya. Ayahku adalah seorang yang percaya dengan Tuhan tapi tidak memiliki Agama. Dia bukan Atheis, hanya tidak percaya Agama. Ibu kami adalah seorang Nasrani, Ayah tidak pernah mempermasalahkan itu. Dia sangat mencintai ibu kami. Namun sayangnya ibu meninggal karna kanker otak dua tahun lalu. Mungkin karna itu Ayah menjadi sangat dingin, padahal sebelum ibu meninggal, Ayah tidak seperti ini. Dia memang pendiam, tapi tidak seperti ini. Ayah kami tidak beragama, Ibu kami Nasrani, dan Ayah berkata kami bebas memilih Agama kami. Karna itu Raura memilih menjadi seorang Nasrani, si idiot Frank menjadi seorang Atheis. Dan aku, aku adalah seorang Muslim. Aku memang sangat tertarik dengan Islam, aku sering mencari info tentang Islam, bertanya-tanya tentang Islam, bahkan kakekku sering menceritakan tentang Islam. Aku menjadi seorang Muslim juga baru setahun yang lalu setelah melewati proses yang lumayan panjang dan melelahkan.
Frank kembali menyendokan sisa makanannya, suapan terakhir sebelum akhirnya langsung pergi dari meja makan kami yang sangat luas dan diatasnya terpampang banyak lauk dan buah. Raura langsung mengeluarkan iPhone-nya begitu ayah pergi, dia terlihat tersenyum bahkan tertawa-tertawa kecil sambil terus mengetik di layar iPhone-nya. Sejujurnya, aku benci keluarga ini. Tidak ada seorangpun yang perduli padaku disini. Lagipula, masa bodoh, aku tidak berharap mereka memperdulikanku.
Aku bangkit dari meja makan dan berjalan menuju kamar. Sial, aku kembali mengingat boneka pemberian kakekku. Bagaimana kalau dia menakutiku ketika aku di kamar nanti? atau lebih parah, bagaimana kalau dia menyerangku? Aku berteriak seperti orang tolol kalau aku dikejar-kejar oleh boneka, dan.. Tepat sekali. Aku akan menjadi bahan lelucon oleh si idiot Frank dan si aneh Raura.
Aku mengintip kamarku melalui lubang kunci, sepi seperti biasa, boneka itu juga masih berada ditempatnya dengan senyumnya yang mengerikan, boneka kayu menyeramkan. Perlahan kubuka pintu kamarku sambil terus fokus pada boneka itu. Pintu kamar sengaja kubuka lebar-lebar agar dapat berlari dengan leluasa nantinya kalau-kalau boneka itu bergerak dan menggila.
Aku mengambil tongkat baseball yang berada di dalam lemariku untuk jaga-jaga. Aku lalu duduk di ranjang, sambil terus memperhatikan boneka itu. Boneka itu kalau berdiri tingginya kira-kira 120cm. Dia diberi baju oleh kakek, baju rapi seperti seorang pendeta berwarna hitam, celananya juga hitam panjang. Lebih aneh lagi, dileher boneka itu ada kalung salib berwarna kemerahan, namun kakek melarangku untuk mengambilnya.
Aku mencoba memberanikan diri untuk mengajak boneka itu berbicara, kutarik nafas dalam-dalam lalu kuhembuskan perlahan.
"Hei, bo-boneka kayu..." Aku takut, ragu, sekaligus merasa tolol karna mengajak sebuah boneka untuk berbicara. Tapi aku yakin dia akan menjawab.
"Aku tahu kau hidup, tolong ja-jawab aku." aku terus melihat wajah boneka itu, fokus ke mata dan mulutnya. Keringat dingin membasahi sekujur tubuhku. Perlahan-lahan mata boneka itu bergerak, oke sekarang aku benar-benar takut. Lalu melihat kearahku. Mulutnya yang kaku perlahan membuka hendak mengatakan sesuatu. Sekarang aku sangat ketakutan dan rasanya akan pingsan sebentar lagi. Dia memutar kepalanya, menggerakan tubuhnya, lalu mengayun-ayunkan tangannya. Aku tidak tahu harus apa, tubuhku yang sudah berkeringat dingin tidak mampu bergerak lagi. Hanya mataku yang masih bisa bergerak.
Boneka itu turun dari meja tempat dia kuletakkan. Dia berjalan, sangat persis seperti seorang manusia ketika berjalan. Dia mendekatiku, diam lalu tersenyum. Ingin sekali kupukul dia dengan tongkat baseball ini, tapi tubuhku tidak mampu untuk bergerak. Boneka itu lalu berjalan menuju arah pintu, dia menutupnya. Kemudian kembali berjalan kearahku. Digeretnya kursi belajarku dengan tangan dan tubuh kecilnya. Dia mengarahkan kursi itu tepat di depanku. Menaiki kursi itu dengan susah payah, lalu duduk sembari menyilangkan lengan ke dada.
"Hai juga... Andy," boneka itu berkata padaku. Suaranya sangat berat, seperti orangtua yang kecanduan rokok,
"Kau ingin tahu siapa aku bukan?" tanya boneka itu. Aku hanya bisa mengangguk karna begitu ketakutan, keringat dingin sudah memenuhi wajah dan kepalaku.
"Hmm... Pertama-tama, aku akan memperkenalkan diri. Namaku adalah Claudio, bukan kakekmu yang memberi nama itu, tapi aku sendiri. Hehehe. Kakekmu mampu menghidupkan benda-benda mati sepertiku dengan mantra-mantranya. Asal kau tahu, semua boneka dirumahnya itu hidup, tapi bukan yang dia jual. Sekarang, kau ingin tahu bukan apa tujuanku disini?" boneka itu kembali bertanya. Sial, ini sudah seperti mimpi buruk yang paling buruk. Boneka itu terlihat makin menyeramkan ketika bibirnya yang terbuat dari kayu itu dapat bergerak-gerak.
"Andy, aku benci menunggu. Mau atau tidak?" boneka itu bertanya lagi, wajahnya menunjukan emosi marah sekaligus lucu kali ini, aku pun mengangguk.
"Bagus. Kakekmu menyuruhku untuk menjagamu. Keluargamu, maksudku keturunan Claver, banyak diburu oleh makhluk-makhluk jahat, bahkan juga manusia-manusia yang punya kemampuan yang sama denganmu bung. Kemampuan kakekmu adalah menghidupkan benda mati, dia juga menguasai beberapa ilmu gelap dan Voodoo. Sementara kau dan kedua kakakmu, aku tidak tahu. Aku adalah bonekanya yang paling kuat, aku pemimpin dari boneka-boneka yang dibuatnya." boneka itu bercerita tanpa henti, dia sangat cerewet. Kini rasa takutku sudah sedikit berkurang.
"Hei, ayolah apa kau tega membiarkanku berbicara sendiri? ayo tanya aku sesuatu. Atau kubakar rambutmu itu dengan sihirku." boneka itu mengangkat tangannya, sepertinya dia mengancamku.
"Ba-baiklah, boneka kayu.."
"Namaku Claudio, bung. Aku tahu aku hanya sebuah boneka, tapi kalau kau memanggilku seperti itu lagi, aku akan menggantungmu di pohon belakang rumahmu." aku kembali diam. Dia selain cerewet juga senang mengancam ternyata.
"Sekarang, apa yang ingin kau tanya?"
"Be-begini tuan bo... Maksudku Claudio, apa kau tidak berbohong? ini semua bukan mimpi?" boneka itu tertawa dengan pertanyaanku,
"Dasar bodoh. Tunggu sampai salah satu dari makhluk-makhluk itu mendatangimu atau keluargamu. Kau pasti sudah tahu tentang lolongan serigala yang sering terdengar di kota mu ini kan?" boneka itu mengingatkanku pada lolongan serigala yang sedang membuat heboh kota belakangan ini. Maksudku, sangat tidak mungkin ada serigala di kota.
"Tunggu, jadi maksudmu serigala-serigala itu..."
"Ya bung, tepat sekali. Itu bukan serigala biasa. Tujuan mereka disini adalah kau dan keluargamu. Heheheh. Hanya tinggal menunggu waktu sebelum mereka datang dan menyerang, perlu kau ketahui juga, hanya makhluk-makhluk kuat yang memiliki kekuatan luar biasa atau manusia yang memiliki kemampuan hebat yang berani langsung menyerang keluarga Claver." boneka itu menerangkan dengan wajah serius, tapi bibirnya masih tersenyum.
"La-lalu, apa yang harus aku lakukan?"
"Pertama, kita harus mencari tahu kemampuanmu dan kedua kakakmu secepatnya. Atau kedua, kita harus pergi dari sini secepatnya. Tapi, kelihatannya pilihan kedua tidak memungkinkan mengingat, tahu, tidak akan ada yang percaya padamu. Hehehe.." boneka sialan, dia malah menakutiku.
"Ayo ikut aku.." boneka itu beranjak dari kursinya lalu melangkah ke pintu,
"Hey, kemana?"
"Menemui kedua kakakmu." Jawabnya. Apa? Apa dia sudah gila? boneka gila!

1 komentar:

Disqus Shortname

Comments system