Pages

Sabtu, 17 September 2016

A Psychopath Called "Loner" Part 6: Cindy "The Knife Girl"


A Psychopath Called "Loner"

6. Cindy "The Knife Girl"

Apa yang paling menyenangkan dari merampok rumah orang kaya pada malam hari? kalian bisa memerika seluruh sudut ruangan untuk mencari harta, memperkosa penghuninya, kemudian membunuh mereka. Nikmat sekali rasanya, begitu menyenangkan. Buktikan sendiri kalau kalian tidak percaya, hehehe...
Malam ini aku akan mengajak Cindy untuk menemaniku merampok lagi. Kalian pasti bertanya kenapa aku bisa percaya pada orang yang baru kutemui bukan? jangan khawatir, aku bukan orang bodoh. Jika aku melihat sedikit saja gerak mencurigakan darinya, maka akan kupotong lehernya.
Cindy sudah kukenalkan pada anjing-anjingku. Awalnya dia sangat ketakutan karna hewan-hewan itu begitu ganas dan memiliki insting membunuh yang besar. Namun sudah kuajarkan pada mereka agar menganggap Cindy sebagai tuan barunya, tuan kedua. Cindy juga sudah kuberitahu seluk-beluk markas ku ini. Mulai dari kamar, dapur, tempat mandi, bahkan ruangan hartaku. Aku bisa mengenali seseorang hanya dengan melihat wajahnya. Cindy, dia adalah seseorang yang setia, aku yakin itu.
"Kenapa kau senang memakai parang?" Cindy bertanya padaku ketika aku sedang berkemas untuk merampok malam ini.
"Karna parang memiliki kekuatan dan ketajaman yang pas." Cindy lalu berbaring diranjang kamarku, dia memakai kaos putih oblong dan jeans pendek. Dia seksi sekali, apalagi dia baru saja mengepang rambutnya, menambah kesan imut dari wajahnya.
Dia tersenyum padaku, senyum menggoda yang sangat menarik.
"Ada apa?" tanyaku.

"Kau tampan sekali Loner,
aku jatuh cinta padamu."

"Aku tidak paham apa itu cinta." Kataku kemudian memakai topeng. Topeng baru karna yang kemarin hancur. Aku memberi kode pada Cindy agar bersiap. Dia lalu bangkit dari ranjang, mengambil pisaunya, lalu ikut memakai penutup wajah. Bukan topeng melainkan hanya sebuah masker sederhana.
Setelah semua sudah siap, kamipun berangkat. Oh iya, aku juga membawa pistolku. Hehehe.. Aku ingin membunuh dengan itu malam ini. Lalu kenapa membawa parang? kalian tidak perlu banyak tanya. Aku ingin memutilasi mayat mereka setelah itu.
Targetku malam ini adalah sebuah rumah diujung kota. Rumah besar namun jauh dari keramaian. Aku dan Cindy berangkat dari markas tepat pukul 12 malam. Aku melihat dari spion motor kearah Cindy. Dia terlihat sangat kedinginan. Gadis bodoh, sudah tau malam ini dingin dia malah tidak memakai jacket. Cindy memelukku dengan erat, pelukan mesra. Dapat kurasakan dadanya yang lumayan besar menekan punggungku. Usianya ternyata 16 tahun ketika aku bertanya kemarin. Ya, kemarin kami banyak bercerita, juga melakukan seks tentu saja.
1 jam berkendara, kami pun sampai dirumah itu. Rumah yang sepi dan sunyi, dikelilingi dinding besar. Gerbangnya juga sangat tinggi. Sial, kami masuk darimana?
Aku lalu memutuskan untuk langsung masuk dari gerbang depan. Aku dan Cindy mendatangi gerbang gang dijaga oleh 4 orang satpam itu. Mereka curiga ketika melihat kami, tentu saja, apalagi aku memakai topeng dan gerak-gerik kami sangat mencurigakan.
"Siapa kalian?" tanya salah satu satpam itu dengan garang, sementara teman-temannya memandang tajam pada kami. Sok hebat, ingin sekali kutusuk leher manusia sombong itu.
"Buka gerbang ini atau kutembak kepalamu." Aku mengeluarkan pistolku dan mengancamnya. Dia ketakutan, aku yakin mereka tidak memiliki senjata api. Hanya sebuah senjata mirip tongkat yang ada dipinggang mereka.
"Cepat!" Satpam tolol itu malah melamun melihat pistolku. Dia memandangi teman-temannya, namun mereka sama saja. Ikut ketakutan. Satpam itu dengan terpaksa membuka gerbangnya. Tak kusangka semudah ini, satpam-satpam ini ternyata adalah pengecut. Ketika dia membuka gerbang, langsung kutembak kepalanya hingga peluru menembus otaknya. Pistol ini sudah kupasang peredam sebelumnya, jadi tak akan memancing keributan. Teman-temannya yang lain kaget, mereka tidak tahu harus berbuat apa. Aku memandang Cindy, dia mengangguk dan tahu harus berbuat apa. Dikeluarkannya pisau dari tas kecilnya lalu menyerang satpam yang tersisa. Dia menyerang mereka begitu mudah, tak ada perlawanan sama sekali. Cindy menusuk leher mereka semua dengan pisaunya. Darah berlinang dihalaman rumah ini.
"Kau hebat Cindy." suaraku seperti bisikan karna ditutup topeng ini.
"Tentu saja sayang." Cindy memeluk tubuhku. Hangat sekali, aku balik memeluknya dan melepas topengku. Aku menciumi bibir mungilnya. Rasa manis dari bibirnya menghilangkan kepahitan dari mulutku.
Tiba-tiba dari arah belakang terdengar suara deru motor, seseorang bertubuh tinggi turun dari motor itu. Dia melihat mayat-mayat satpam didepannya, lalu melihat kami kemudian. Aku tau dia akan sangat marah, karna kemarin dia memberi alamatnya padaku. Salah siapa?
"Andre, kau yang melakukan ini?" katanya setelah melepas helmnya lebih dulu. Aku mengangguk hingga membuatnya makin geram. Orang yang mengaku sebagai adikku itu lalu melepas tasnya, jacket kulitnya, dan juga kaosnya. Tubuhnya kekar seperti tubuhku, hanya saja dia sedikit lebih tinggi dan putih.
"Aku akan benar-benar menghajarmu kali ini Andre, kau dan juga pelacurmu itu. Kuberi alamatku agar kau datang dan menjenguk ayah yang tengah sekarat, tapi kau, kau benar-benar anjing!"
Pria itu kemudian bersiap menyerang kami. Otakku berkata agar menembaknya saja, namun hatiku... Mengatakan tidak. Apa yang harus kulakukan? dia cukup berbahaya, Cindy bukan tandingannya apalagi aku. Aku tidak percaya kalau dia adalah adikku setelah berpikir lagi dengan logis, namun aku juga yakin dia tidak berbohong. Apa yang harus kulakukan?

0 komentar:

Posting Komentar

Disqus Shortname

Comments system